Eliza Kiwak: Akan Lahir Kwalik Kwalik Baru di Tanah Papua

Kompas.com - 17/12/2009, 10:42 WIB

TIMIKA, KOMPAS.com — Massa yang menamakan masyarakat Papua dari tujuh suku di Mimika menggelar aksi solidaritas damai ke Kantor DPRD Mimika, Kamis (17/12/2009). Saat ini massa yang terdiri dari kaum laki-laki, perempuan, dan anak-anak duduk bersila dan menggelar orasi di halaman Kantor DPRD Mimika menuntut pihak kepolisian segera memulangkan jenazah yang diduga Kellly Kwalik ke Timika.
     
Sebelumnya, massa berlari dalam rombongan besar dari arah Kwamki Baru menuju Kantor DPRD Mimika sembari memekikkan "waita" atau teriakan dan tarian khas suku-suku pegunungan Papua saat menghadapi perang suku.
     
Salah satu orator, Jakobus Kogoya, mengatakan, jenazah Kelly Kwalik harus segera dipulangkan ke Timika. "Siapa pun yang mati itu, jenazahnya harus ada di sini. Dia orang Timika," desak Jakobus.
     
Warga lainnya, Eliza Kiwak, mengajak warga Papua di Timika bersama-sama berkumpul di Kantor DPRD Mimika untuk menyambut jenazah Kelly Kwalik. "Hidup Papua Barat. Mari kita sambut panglima kita Jenderal Kelly Kwalik," kata Eliza Kiwak.
     
Salah seorang pemuda dalam orasinya mengatakan, meskipun Kelly Kwalik ditembak mati oleh aparat keamanan, tetapi Kelly Kwalik-Kelly Kwalik yang lain akan tumbuh subur di Papua. "Pepatah bilang patah satu tumbuh seribu. Kelly sudah meninggal, namun akan bangkit banyak Kelly yang lain," ujarnya.
     
Ia menegaskan, wilayah Papua suatu ketika akan berdiri sebagai wilayah yang berdaulat alias merdeka. Meski melakukan orasi, warga tidak bertindak anarkis dan cukup kooperatif dengan aparat kepolisian yang mengawal ketat Kantor DPRD Mimika sejak Rabu pagi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau